Eksisnya Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan, karena akumulasi dari beberapa faktor. Faktor yang sangat menentukan adalah persoalan Rasionalisasi dan Demobilisan Tentara.
Sejak tahun 1950, di MBAD (Markas Besar Angkatan Darat) berkembang dua pendapat, yang saling bertentangan. Pihak pertama dimotori oleh Kol. Bambang Soepeno, Kastaf Territorial Djawa, berpendapat bahwa yang dibutuhkan tentara, adalah semangat revolusioner yang tinggi serta keeratan hubungannya dengan rakyat, sedangkan pendapat kedua dimotori oleh Kol. AH. Nasution, KSAD, yang berpendapat bahwa tentara harus cakap secara tekhnis,terorganisir dalam hierarki yang jelas serta profesional.
Saat pertentangan di MBAD ini kian memuncak, Panglima Soedirman sakit keras, dan akhirnya meninggal dunia. Kelompok Soepeno akhirnya terpojok, dan Kelompok Nasutionlah (Profesional) yang memegang keputusan di MBAD. Akibat dari Rasionalisasi dan Demobilisan Tentara ini, sekitar 15.000 gerilyawan. Yang ada di Sulawesi Selatan tidak akan diterima menjadi tentara oleh MBAD, sebab mereka tidak cukup memiliki pendidikan formal yang tinggi, bahkan kebanyakan dari mereka buta aksara latin.
Adalah Abdul Qahhar Mudzakkar, yang tampil membela hak-hak kaum Gerilyawan. Qahhar kemudian mengusulkan kepada Kol. AE. Kawilarang; Kastaf Terittirial IV Indonesia Timur, agar gerilyawan ini dimasukkan kedalam satu Resimen, yang diusulkan namanya “Resimen Hasanuddin”. Usul Qahhar ini di tolak mentah-mentah oleh AE. Kawilarang, bahkan Ia kemudian mengancam akan membubarkan KGSS (Komando Gerilya Sulawesi Selatan) yang dipimpin oleh Qahhar.
Abdul Qahhar Mudzakkar yang merasa diinjak-injak harga dirinya , pada tanggal 1 Juli 1950 mencopot segala atribut kemiliteran TNI, lalu menyerahkan kepada AE. Kawilarang selaku penguasa Militer di Indonesia Timur. Pada saat itu Qahhar menyatakan keluar dari TNI, Ia kemudian bergabung dengan kesatuan-kesatuan Gerilyawan yang tersebar di pedalaman-pedalaman Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, Qahhar menyatakan perlawanan terhadap Pemerintah Indonesia.
Disinilah awal dari sejarah Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan. Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan secara umum dapat dibagi empat periode, yakni:
Periode 1950-1953, KGSS berubah nama menjadi TKR (Tentara Kemerdekaan Rakyat) yang masuk ke hutan melakukan perlawanan terhadap TNI, mempersoalkan tentang Rasionalisasi dan Demobilisan Tentara.
Periode 1953-1959, Qahar dan pasukannya menyatakan bergabung dengan Darul Islam Pimpinan SM. Kartosuwirjo, di Jawa Barat, sejak saat itu orientasi perjuangannya berdasarkan pada Islam.
Periode 1959-1962, TNI perlahan-lahan dapat menekan Gerakan ini, disebabkan karena adanya perpecahan ditubuh gerakan sendiri.
Periode 1962-1965, ditengah kesendiriannya, Qahhar berusaha merealisasikan idenya, dengan membentuk Negara Islam, Ia kemudian memproklamirkan berdirinya RPII (Republik Persatuan Islam Indonesia). RPII ini merupakan negara yang tidak berada lagi dibawah kekuasaan Kartosuwirjo. Tapi merupakan negara merdeka dibawah kepemimpinan Qahhar, dengan Gelar Chalifah.
Akhir dari gerakan ini secara umum, ditandai dengan meninggalnya Qahhar ditangan Kopda Sadeli, Anggota Pasukan dari Batalyon 330 Kujang I Siliwangi, pada tanggal 3 pebruari 1965 di tepi sungai Lasolo’, desa Laiyu Sulawesi Tenggara. Di wilayah yang sempat dikuasai oleh Gerakan Darul Islam, pernah menegakkan Syariat Islam, yang menyimpan konstruksi sejarah dan liku-liku realitas Gerakan Darul Islam pada masa lalu. Diantara wilayah itu adalah Moncongloe, yang merupakan wilayah Darul Islam, yang terdekat dengan Makassar.
Atas dasar itulah, maka Penulis akan mencoba mengangkat masalah ini kedalam makalah yang bertema Rekonstruksi serta dampak Gerakan Darul Islam di Moncongloe antara tahun 1950-1970.
Bangkitnya Darul Islam
Gerakan Darul Islam adalah sebuah gerakan yang berdasarkan Islam. maksud dan tujuan gerakan ini ialah mendirikan suatu negara yang berdasarkan Islam. Gerakan Darul Islam menggunakan cara perlawanan bersenjata, untuk mencapai tujuannya.
Gerakan ini berpusat di Jawa Barat, dibawah kepemimpinan SM. Kartosuwirjo, tokoh penting di Jawa Barat. Gerakan ini muncul akibat dari kekecewaan Kartosuwirjo akan penandatanganan perjanjian Renville, pada anggal 17 Januari 1948, yang isinya merugikan pihak Indonesia, sebab wilayahnya makin sempit.
SM. Kartosuwiryo kemudian memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), pada tanggal 8 Desember 1948.
Gerakan ini mampu bertahan selama 13 tahun, sebelum akhirnya berhasil dilumpuhkan dengan menggunakan operasi pagar betis dibawah pimpinan Mayjen. Ibrahim Adjie komandan pasukan Divisi Siliwangi, Kartosuwirjo kemudian ditangkap pada tanggal 2 Juni 1962. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati, sejak saat itu gerakan Darul Islam Padam di Jawa Barat.
Gerakan Darul Islam pimpinan SM. Kartosuwirjo, merupakan pusat gerakan Darul Islam, kemudian bergabung,diantaranya dari Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan serta Sulawesi Selatan.
Titik awal dari gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan, yaitu mundurnya Letkol Abdul Qahhar Mudzakkar dari APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). Tanggal 1 Juli 1950 Qahhar mencopot tanda pangkat dipundaknya serta segala simbol-simbol kemiliteran, kemudian diserahkan secara baik-baik kepada Kol. AE. Kawilarang, Panglima Territorium IV Indonesia Timur, sejak saat itu Qahhar menyatakan keluar dari APRIS dan bergabung bersama gerilyawan-gerilyawan dipedalaman-pedalaman Sulawesi Selatan.
Apa yang dilakukan Qahhar ini adalah manipestasi dari puncak perdebatan dalam MBAD. Perbuatan Qahhar ini secara tidak langsung didukung oleh Kolonel Bambang Soepeno. Terbukti Soepeno yang waktu itu menjabat sebagai wakil KSAD, pada tahun 1950 mengirim Batalyon 110 Seulawah jantan dibawah pimpinan Kapten Hasan Saleh dalam rangka operasi militer terhadap Batalyon KGSS, namun Batalyon 110 Seulawah Jantan ini, tidak dipersenjatai, sebab Soepeno tidak ingin melihat sahabatnya Qahhar mati dalam operasi Militer.
Abdul Qahhar Mudzakkar adalah putra dari seorang pedagang mapan di Lanipa distrik Ponrang kerajaan Luwu. Qahhar lahir pada tanggal 24 maret 1921 di Lanipa, kerajaan Luwu. setelah berumur 20 tahun, Qahhar “merantau” ke Jawa khususnya di daerah Yogyakarta disana ia bergabung dengan Lasykar atau Tentara Pelajar yang berasal dari Sulawesi Selatan dalam berjuang merebut kemerdekaan dan mempertahankannya.
Atas jasa-jasanya ini dalam diangkat oleh APRIS dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel. Pangkat yang belum pernah disandang oleh orang Bugis Makassar sebelumnya.
Setelah kemerdekaan, Qahhar tampil membela hak-hak gerilyawan yang dicampakkan begitu saja oleh MBAD. Ia kemudian memimpin KGSS angkat senjata melawan APRIS Qahhar dan pasukannya kemudian bergabung dengan Darul Islam yang dipimpin oleh SM Kartosuwirjo, pada tanggal 7 agustus 1953 sejak saat itu dasar perjuangan Qahhar berdasarkan Islam, sebelumnya dalam tenggang 1950-1953, Qahhar dan pasukannya yakni TKR (Tentara Kemerdekaan Rakyat), masih berdasarkan Pancasila.
Sejak menyatakan bergabung dengan Darul Islam, maka perjuangan dari Darul Islam Sulawesi Selatan kian meluas, serta mendapat respon positif baik dari beberapa tokoh, maupun Organisasi Islam yang ada di Sulawesi Selatan.
Organisasi yang mendukung itu meskipun secara tidak langsung, adalah MASYUMI, MUHAMMADIYAH, PSII, serta lembaga pendidikan Islam DDI pimpinan Anre’gurutta, H. Abdurrahman Ambo Dalle.
Antara tahun 1959 – 1962, TNI mulai berhasil menekan Gerakan ini, karena disebabkan oleh perpecahan di tubuh Gerakan Darul Islam sendiri. Pada tahun 1962, Qahhar mencoba bertahan ditengah kesendiriannya, ia berusaha merealisasikan idenya mendirikan Negara Islam yang beliau cita-citakan selama ini.
Ia kemudian beserta sisa-sisa pasukannya kemudian memproklamasikan berdirinya Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). RPII ini merupakan negara Islam yang berpusat di Sulawesi Selatan, bukan lagi sebagai bagian dari Darul Islam Jawa Barat, yang pada waktu itu sudah dilumpuhkan oleh TNI. Qahhar sendiri yang menjadi Presiden/Chalifah RPII, dengan gelar militernya yang tertinggi ditubuh Darul Islam ialah Kolonel.
Karena banyak tokoh Darul Islam Sulawesi Selatan menyerah atau ditangkap, diantaranya Bahar Mataliu dan Usman Balo menyerah, serta Nurdin Piso tertangkap. Akhirnya disusul dengan Sang Maestro gerakan Darul Islam Sulawesi Selatan, kemudian menghenbuskan napas terakhir ditangan Kopda Sadeli, prajurit dari Yon 330 Kujang I Siliwangi. Pada tanggal 3 Februari 1965 di Tepi Sungai Lasolo’ di Desa Laiyu Sulawesi Tenggara.
Lazimnya suatu gerakan yang pernah mengakar selama 15 tahun di Sulawesi Selatan, pastilah ada dampak yang ditinggalkannya di masyarakat, terutama diawal-awal lenyapnya gerakan ini. Bahkan sampai saat ini masih segar diingatan masyarakat Sulawesi Selatan khususnya dipedalaman-pedalaman bahwa gerakan ini pernah meninggalkan dampak terhadap masyarakat.