Jumat, 31 Agustus 2012


MEMBUAT TULISAN TERBALIK PADA BLOG, WEBSITE, PROFILE FRIENDSTER FACE BOOK DAN COMMENT


Bagaimana Menggunakan Tool Generator Tulisan Terbalik ini ?
  1. Buka http://www.esc-creation.com/tulisan-terbalik
  2. Ketikan tulisan yang akan anda buat terbalik pada kolom yang di atas.
  3. Copy tulisan terbalik yang sudah di hasilkan Flip Karakter Generator ini, kemudian Pastekan pada blog, website/situs , Comment, Profile FaceBook, Friendster dan sebagainya.
“Tulisan Terbalik” yang dihasilkan dari Generator Tulisan Terbalik ini bahkan bisa digunakan pada aplikasi Office, seperti Word , EXEL dan aplikasi atau software lainnya. Mudah bukan ? Silahkan mencoba menulis secara Terbalik dengan ESC creation Flip Karakter Generator ini. Buatlah kejutan kepada teman – teman anda.

Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa


Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa


Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. 

Tujuan pendidikan nasional itu merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Untuk mendapatkan wawasan mengenai arti pendidikan budaya dan karakter bangsa perlu dikemukakan pengertian istilah budaya, karakter bangsa, dan pendidikan. Pengertian yang dikemukakan di sini dikemukakan secara teknis dan digunakan dalam mengembangkan pedoman ini. Guru-guru Antropologi, Pendidikan Kewarganegaraan, dan mata pelajaran lain, yang istilah-istilah itu menjadi pokok bahasan dalam mata pelajaran terkait, tetap memiliki kebebasan sepenuhnya membahas dan berargumentasi mengenai istilah-istilah tersebut secara akademik. Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya dan lingkungan alamnya. Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu digunakan dalam kehidupan manusia dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama manusia dan alam kehidupan, manusia diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya. Ketika kehidupan manusia terus berkembang, maka yang berkembang sesungguhnya adalah sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam mengembangkan potensi peserta didik, sehingga mereka memiliki sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa mendatang.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan sosial dan budaya bangsa adalah Pancasila; jadi pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan kata lain, mendidik budaya dan karakter bangsa adalah mengembangkan nilai-nilai Pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan hati, otak, dan fisik.

Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan adalah proses pewarisan budaya dan karakter bangsa bagi generasi muda dan juga proses pengembangan budaya dan karakter bangsa untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Dalam proses pendidikan budaya dan karakter bangsa, secara aktif peserta didik mengembangkan potensi dirinya, melakukan proses internalisasi, dan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian mereka dalam bergaul di masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera, serta mengembangkan kehidupan bangsa yang bermartabat.

Berdasarkan pengertian budaya, karakter bangsa, dan pendidikan yang telah dikemukakan di atas maka pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif .

Atas dasar pemikiran itu, pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangatstrategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan itu harus dilakukan melalui perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar serta pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat suatu nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah; oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pemimpin sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.


Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:

  1. pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa;
  2. perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat; dan
  3. penyaring: untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Tujuan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Tujuan pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah:

  1. mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
  2. mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
  3. menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
  4. mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
  5. mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).


Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini.

  1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
  2. Pancasila: negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.
  3. Budaya: sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.
  4. Tujuan Pendidikan Nasional: sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.


Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini.

Tabel. 
Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa
No.
Nilai
Deskripsi
1
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2
Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5
Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6
Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan   cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7
Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8
Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10
Semangat Kebangsaan 
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11
Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12
Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13
Bersahabat/Komuniktif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14
Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15
Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16
Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17
Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18
Tanggung jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.


Catatan:

Sekolah dan guru dapat menambah atau pun mengurangi nilai-nilai tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah dan hakekat materi SK/KD dan materi bahasan suatu mata pelajaran. Meskipun demikian, ada 5 nilai yang diharapkan menjadi nilai minimal yang dikembangkan di setiap sekolah yaitu nyaman, jujur, peduli, cerdas, dan tangguh/kerjakeras.








Sumber: Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Sabtu, 18 Agustus 2012


SYL Masuk Nominasi 70 Besar Kepala Daerah Terbaik Dunia

Apakah yang dikenal dunia dari Indonesia (Dari segi Positif/Prestasi)???, soo pasti yang kita bisa menunjukkan antara lain: Pulau Bali Karena Panoramanya Yang luar biasa, Hasil kriya Indonesia Batik dan Keris, Teori Habibie yang dikenal sebagai faktor dan metode Habibie atau Suatu rumus yang membuat dunia industri pesawat terbang menjadi efisien di biaya pembuatannya. Serta dapat diciptakan pesawat dengan bobot yang jauh berkurang, sementara kinerja pesawat bisa ditingkatkan lantaran daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Trus dikenal pula tentang kehebatan Tentara Khusus Kita Kopassus yang masuk tentara terbaik dunia, Pondasi Cakar Ayam ciptaan Prof. DR. Ir. Sedijatmo yang membuat suatu bangunan tahan gempa, dll.
Lalu pada tahun 2012 ini apa kira-kira yang mengharumkan nama Indonesia di tingkat duia? Yup ada  tiga kepala daerah Indonesia yang masuk Nominasi 70 besar kepala daerah terbaik tingkat dunia versi The City Mayor Foundation.
The City Mayor Foundation adalah sebuah lembaga dunia yang khusus memberikan penghargaan kepada kepala daerah terbaik dunia versi The City Mayor Foundation, setiap tahunnya, dan Kita patut berbangga karena ke 70 Nominator kepala daerah terbaik Dunia itu ada tiga orang Indoesia, yakni Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL), walikota Surabaya Tri Rismaharini (Risma), dan Walikota Surakarta Joko Widodo (Jokowi). Penentuan pemenang Kepala daerah terbaik dunia versi The City Mayor Foundation akan diumumkan pada akhir tahun (Desember 2012).
Berikut ini 70 nominator tersebut secara bisa dilihat di bawah ini:
(Last updated 1 April 2012, Sumber: disini)
Amerika Utara
  1. Mayor Joe Fontana, London, Ontario, Canada
  2. Mayor Carl Zehr, Kitchener, Canada
  3. Mayor Régis Labeaume, Québec City, Canada
  4. Mayor Dianne Watts, Surrey, BC, Canada
  5. Mayor Rob Ford, Toronto, Canada
  6. Mayor Stephanie Rawlings-Blake, Baltimore, USA
  7. Mayor Thomas Menino, Boston, USA
  8. Mayor Karen Freeman-Wilson, Gary, USA
  9. Mayor David Bing, Detroit, USA
  10. Mayor John F Cook, El Paso, USA
  11. Mayor R T Rybak, Minneapolis, USA
  12. Mayor Antonio Villaraigosa, Los Angeles, USA
  13. Mayor Tom Barrett, Milwaukee, USA
  14. Mayor Cory Booker, Newark, USA
  15. Mayor John DeStefano, New Haven, USA
Amerika Latin
  1. Mayor Mauricio Macri, Buenos Aires, Argentina
  2. Mayor Victor Fayad, Mendoza, Argentina
  3. Mayor Wilson Carlos Rodrigues Borini, Birigui, Brazil
  4. Mayor Luciano Ducci, Curitiba, Brazil
  5. Mayor Eduardo Paes, Rio de Janeiro, Brazil
  6. Mayor Rabindranath Quinteros Lara, Puerto Montt, Chile
  7. Mayor Gustavo Petro, Bogota, Colombia
  8. Mayor Jaime José Nebot Saadi, Guayaquil, Ecuador
  9. Mayor Alvaro Arzú, Guatemala City, Guatemala
  10. Mayor Lorena Martínez, Aguascalientes, Mexico
  11. Mayor Mauricio Fernández Garza, San Pedro Garza García, Mexico
  12. Mayor Antonio Ledezma, Caracas, Venezuela
Eropa
  1. Mayor Qazim Sejdini, Elbasan, Albania
  2. Mayor Michael Häupl, Vienna, Austria
  3. Mayor Jussi Pajunen, Helsinki, Finland
  4. Mayor Jean-Claude Antonini, Angers, France
  5. Mayor Serge Goddard, Clermont Ferrand, France
  6. Mayor Stephan Weil, Hanover, Germany
  7. Mayor Christian Ude, Munich, Germany
  8. Mayor Athanassios Kousathanas – Megas, Mykonos, Greece
  9. Mayor Éva Tétényi, Esztergom, Hungary
  10. Mayor Matteo Renzi, Mayor of Florence, Italy
  11. Mayor Marta Vincenzi, Genoa, Italy
  12. Mayor Flavio Tosi, Verona, Italy
  13. Mayor Xavier Bettel, Luxembourg City, Luxembourg
  14. Mayor Eberhard van der Laan, Amsterdam, Netherlands
  15. Mayor Fabian Stang, Oslo, Norway
  16. Mayor Jacek Majchrowski, Kraków, Poland
  17. Mayor Rui Fernando da Silva Rio, Porto, Portugal
  18. Mayor Sergey Sobyanin, Moscow, Russia
  19. Mayor Pere Navarro Morera, Tarrasa, Spain
  20. Mayor Sten Nordin, Stockholm, Sweden
  21. Mayor Giorgio Giudici, Lugano, Switzerland
  22. Mayor Boris Johnson, London, UK
  23. Mayor Robin Wales, Newham, London, UK
  24. Mayor Dorothy Thornhill, Watford, UK
Asia
  1. Mayor Han Zheng, Shanghai, China
  2. Mayor Lin Zuluan, Wukan, China
  3. Mayor Shraddha Shridhar Jadhav, Mumbai, India
  4. Mayor Kiranmayi Nayak, Raipur, India
  5. Gubernur Syahrul Yasin Limpo (SYL), Sulawesi Selatan, Indonesia
  6. Walikota Tri Rismaharini (Risma), Surabaya, Indonesia
  7. Walikota Joko Widodo (Jokowi), Surakarta, Indonesia
  8. Mayor Mohammad Bagher Ghalibaf, Tehran, Iran
  9. Mayor Ron Huldai, Tel Aviv, Israel
  10. Mayor Toru Hashimoto, Osaka, Japan
  11. Mayor Edgardo Pamintuan, Angeles City, Philippines
  12. Mayor Sara Duterte-Carpio, Davao City, Philippines
  13. Mayor Alfredo S Lim, Manila, Philippines
  14. Sultan bin Hamdoon Al Harthy, Muscat, Oman
  15. Mayor Park Won-soon, Seoul, South Korea
  16. Mayor Hilmy Careem, Matale, Sri Lanka
  17. Mayor Melih Gökçek, Ankara, Turkey
Australia Dan Sekitarnya
  1. Mayor Robert Doyle, Melbourne, Australia
  2. Mayor Clover Moore, Sydney, Australia
  3. Mayor Len Brown, Mayor of Auckland, New Zealand
Afrika
  1. Mayor Mouhib Khatir, Zeralda, Algeria
  2. Mayor Langsi Abel Ngwasoh, Bafut, Cameroon
  3. Mayor George Aladwa, Nairobi, Kenya
  4. Mayor Ayodele Adebowale Adewale, Amuwo Odofin LG, Lagos, Nigeria
  5. Mayor Patricia de Lille, Cape Town, South Africa
  6. Mayor Mondli Gungubele, Ekurhuleni, South Africa.
Demikialah artikel yang membahas mengenai SYL Masuk Nominasi 70 Besar Kepala Daerah Terbaik Dunia, semoga artikel ini tentunya dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.

Jumat, 17 Agustus 2012


Darul Islam di Sulawesi Selatan


Eksisnya Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan, karena akumulasi dari beberapa faktor. Faktor yang sangat menentukan adalah persoalan Rasionalisasi dan Demobilisan Tentara.
Sejak tahun 1950, di MBAD (Markas Besar Angkatan Darat) berkembang dua pendapat, yang saling bertentangan. Pihak pertama dimotori oleh Kol. Bambang Soepeno, Kastaf Territorial Djawa, berpendapat bahwa yang dibutuhkan tentara, adalah semangat revolusioner yang tinggi serta keeratan hubungannya dengan rakyat, sedangkan pendapat kedua dimotori oleh Kol. AH. Nasution, KSAD, yang berpendapat bahwa tentara harus cakap secara tekhnis,terorganisir dalam hierarki yang jelas serta profesional.
Saat pertentangan di MBAD ini kian memuncak, Panglima Soedirman sakit keras, dan akhirnya meninggal dunia. Kelompok Soepeno akhirnya terpojok, dan Kelompok Nasutionlah (Profesional) yang memegang keputusan di MBAD. Akibat dari Rasionalisasi dan Demobilisan Tentara ini, sekitar 15.000 gerilyawan. Yang ada di Sulawesi Selatan tidak akan diterima menjadi tentara oleh MBAD, sebab mereka tidak cukup memiliki pendidikan formal yang tinggi, bahkan kebanyakan dari mereka buta aksara latin.
Adalah Abdul Qahhar Mudzakkar, yang tampil membela hak-hak kaum Gerilyawan. Qahhar kemudian mengusulkan kepada Kol. AE. Kawilarang; Kastaf Terittirial IV Indonesia Timur, agar gerilyawan ini dimasukkan kedalam satu Resimen, yang diusulkan namanya “Resimen Hasanuddin”. Usul Qahhar ini di tolak mentah-mentah oleh AE. Kawilarang, bahkan Ia kemudian mengancam akan membubarkan KGSS (Komando Gerilya Sulawesi Selatan) yang dipimpin oleh Qahhar.
Abdul Qahhar Mudzakkar yang merasa diinjak-injak harga dirinya , pada tanggal 1 Juli 1950 mencopot segala atribut kemiliteran TNI, lalu menyerahkan kepada AE. Kawilarang selaku penguasa Militer di Indonesia Timur. Pada saat itu Qahhar menyatakan keluar dari TNI, Ia kemudian bergabung dengan kesatuan-kesatuan Gerilyawan yang tersebar di pedalaman-pedalaman Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, Qahhar menyatakan perlawanan terhadap Pemerintah Indonesia.
Disinilah awal dari sejarah Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan. Gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan secara umum dapat dibagi empat periode, yakni:
Periode 1950-1953, KGSS berubah nama menjadi TKR (Tentara Kemerdekaan Rakyat) yang masuk ke hutan melakukan perlawanan terhadap TNI, mempersoalkan tentang Rasionalisasi dan Demobilisan Tentara.
Periode 1953-1959, Qahar dan pasukannya menyatakan bergabung dengan Darul Islam Pimpinan SM. Kartosuwirjo, di Jawa Barat, sejak saat itu orientasi perjuangannya berdasarkan pada Islam.
Periode 1959-1962, TNI perlahan-lahan dapat menekan Gerakan ini, disebabkan karena adanya perpecahan ditubuh gerakan sendiri.
Periode 1962-1965, ditengah kesendiriannya, Qahhar berusaha merealisasikan idenya, dengan membentuk Negara Islam, Ia kemudian memproklamirkan berdirinya RPII (Republik Persatuan Islam Indonesia). RPII ini merupakan negara yang tidak berada lagi dibawah kekuasaan Kartosuwirjo. Tapi merupakan negara merdeka dibawah kepemimpinan Qahhar, dengan Gelar Chalifah.
Akhir dari gerakan ini secara umum, ditandai dengan meninggalnya Qahhar ditangan Kopda Sadeli, Anggota Pasukan dari Batalyon 330 Kujang I Siliwangi, pada tanggal 3 pebruari 1965 di tepi sungai Lasolo’, desa Laiyu Sulawesi Tenggara. Di wilayah yang sempat dikuasai oleh Gerakan Darul Islam, pernah menegakkan Syariat Islam, yang menyimpan konstruksi sejarah dan liku-liku realitas Gerakan Darul Islam pada masa lalu. Diantara wilayah itu adalah Moncongloe, yang merupakan wilayah Darul Islam, yang terdekat dengan Makassar.
Atas dasar itulah, maka Penulis akan mencoba mengangkat masalah ini kedalam makalah yang bertema Rekonstruksi serta dampak Gerakan Darul Islam di Moncongloe antara tahun 1950-1970.
Bangkitnya Darul Islam
Gerakan Darul Islam adalah sebuah gerakan yang berdasarkan Islam. maksud dan tujuan gerakan ini ialah mendirikan suatu negara yang berdasarkan Islam. Gerakan Darul Islam menggunakan cara perlawanan bersenjata, untuk mencapai tujuannya.
Gerakan ini berpusat di Jawa Barat, dibawah kepemimpinan SM. Kartosuwirjo, tokoh penting di Jawa Barat. Gerakan ini muncul akibat dari kekecewaan Kartosuwirjo akan penandatanganan perjanjian Renville, pada anggal 17 Januari 1948, yang isinya merugikan pihak Indonesia, sebab wilayahnya makin sempit.
SM. Kartosuwiryo kemudian memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), pada tanggal 8 Desember 1948.
Gerakan ini mampu bertahan selama 13 tahun, sebelum akhirnya berhasil dilumpuhkan dengan menggunakan operasi pagar betis dibawah pimpinan Mayjen. Ibrahim Adjie komandan pasukan Divisi Siliwangi, Kartosuwirjo kemudian ditangkap pada tanggal 2 Juni 1962. Ia kemudian dijatuhi hukuman mati, sejak saat itu gerakan Darul Islam Padam di Jawa Barat.
Gerakan Darul Islam pimpinan SM. Kartosuwirjo, merupakan pusat gerakan Darul Islam, kemudian bergabung,diantaranya dari Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan serta Sulawesi Selatan.
Titik awal dari gerakan Darul Islam di Sulawesi Selatan, yaitu mundurnya Letkol Abdul Qahhar Mudzakkar dari APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). Tanggal 1 Juli 1950 Qahhar mencopot tanda pangkat dipundaknya  serta segala simbol-simbol kemiliteran, kemudian diserahkan secara baik-baik kepada Kol. AE. Kawilarang, Panglima Territorium IV Indonesia Timur, sejak saat itu Qahhar menyatakan keluar dari APRIS dan bergabung bersama gerilyawan-gerilyawan dipedalaman-pedalaman Sulawesi Selatan.
Apa yang dilakukan Qahhar ini adalah manipestasi dari puncak perdebatan dalam MBAD. Perbuatan Qahhar ini secara tidak langsung didukung oleh Kolonel Bambang Soepeno. Terbukti Soepeno yang waktu itu menjabat sebagai wakil KSAD, pada tahun 1950 mengirim Batalyon 110 Seulawah jantan dibawah pimpinan Kapten Hasan Saleh dalam rangka operasi militer terhadap Batalyon KGSS, namun Batalyon 110 Seulawah Jantan ini, tidak dipersenjatai, sebab Soepeno tidak ingin melihat sahabatnya Qahhar mati dalam operasi Militer.
Abdul Qahhar Mudzakkar adalah putra dari seorang pedagang mapan di Lanipa distrik Ponrang kerajaan Luwu. Qahhar lahir pada tanggal 24 maret 1921 di Lanipa, kerajaan Luwu. setelah berumur  20 tahun, Qahhar “merantau” ke Jawa khususnya di daerah Yogyakarta disana ia bergabung dengan Lasykar atau Tentara Pelajar yang berasal dari Sulawesi Selatan dalam berjuang merebut kemerdekaan dan mempertahankannya.
Atas jasa-jasanya ini dalam diangkat oleh APRIS dengan  pangkat terakhir Letnan Kolonel. Pangkat yang belum pernah disandang oleh orang Bugis Makassar sebelumnya.
Setelah kemerdekaan, Qahhar tampil membela hak-hak gerilyawan yang dicampakkan begitu saja oleh MBAD. Ia kemudian memimpin KGSS angkat senjata melawan APRIS Qahhar dan pasukannya kemudian bergabung dengan Darul Islam yang dipimpin oleh SM Kartosuwirjo, pada tanggal 7 agustus 1953  sejak saat itu dasar perjuangan Qahhar berdasarkan Islam, sebelumnya dalam tenggang 1950-1953, Qahhar dan pasukannya yakni TKR (Tentara Kemerdekaan Rakyat), masih berdasarkan Pancasila.
Sejak menyatakan bergabung dengan Darul Islam, maka perjuangan dari Darul Islam Sulawesi Selatan kian meluas, serta mendapat respon positif baik dari beberapa tokoh, maupun Organisasi Islam yang ada di Sulawesi Selatan.
Organisasi yang mendukung itu meskipun secara tidak langsung, adalah MASYUMI, MUHAMMADIYAH, PSII, serta lembaga pendidikan Islam DDI pimpinan Anre’gurutta, H. Abdurrahman Ambo Dalle.
Antara tahun 1959 – 1962, TNI mulai berhasil menekan Gerakan ini, karena disebabkan oleh perpecahan di tubuh Gerakan Darul Islam sendiri. Pada tahun 1962, Qahhar mencoba bertahan ditengah kesendiriannya, ia berusaha merealisasikan idenya mendirikan Negara Islam yang beliau cita-citakan selama ini.
Ia kemudian beserta sisa-sisa pasukannya kemudian memproklamasikan berdirinya Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). RPII ini merupakan negara Islam yang berpusat di Sulawesi Selatan, bukan lagi sebagai bagian dari Darul Islam Jawa Barat, yang pada waktu itu sudah dilumpuhkan oleh TNI. Qahhar sendiri yang menjadi Presiden/Chalifah RPII, dengan gelar militernya yang tertinggi ditubuh Darul Islam ialah Kolonel.
Karena banyak tokoh Darul Islam Sulawesi Selatan menyerah  atau ditangkap, diantaranya Bahar Mataliu dan Usman Balo menyerah, serta Nurdin Piso tertangkap. Akhirnya disusul dengan Sang Maestro gerakan Darul Islam Sulawesi Selatan, kemudian menghenbuskan napas terakhir ditangan Kopda Sadeli, prajurit dari Yon 330 Kujang I Siliwangi. Pada tanggal 3 Februari 1965 di Tepi Sungai Lasolo’ di Desa Laiyu Sulawesi Tenggara.
Lazimnya suatu gerakan yang pernah mengakar selama 15 tahun di Sulawesi Selatan, pastilah ada dampak yang ditinggalkannya di masyarakat, terutama diawal-awal lenyapnya gerakan ini. Bahkan sampai saat ini masih segar diingatan masyarakat Sulawesi Selatan khususnya dipedalaman-pedalaman bahwa gerakan ini pernah meninggalkan dampak terhadap masyarakat.

Senin, 13 Agustus 2012


Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru 2011 TK/RA/BA/SD

Penerimaan peserta didik baru pada taman kanak-kanak/Raudhatul athfal/bustanul athfal dan sekolah/madrasah diatur berdasarkan Peraturan Bersama Mendiknas dan Menag Nomor 04/vi/pb/2011 dan Nomor ma/111/2011 tanggal 17 Juni 2011.

Pengertian
Pendaftaran peserta didik baru adalah proses seleksi administrasi untuk mendaftar menjadi calon peserta didik pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah.
Penerimaan peserta didik baru adalah penerimaan peserta didik pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru.


Tujuan
Penerimaan peserta didik baru pada TK/RA/BA dan sekolah/madrasah bertujuan memberi kesempatan yang seluas-luasnya bagi warga negara usia sekolah agar memperoleh layanan pendidikan yang sebaik-baiknya.


Syarat
Persyaratan calon peserta didik baru pada TK/RA/BA adalah:
berusia 4 sampai dengan 5 tahun untuk kelompok A; dan
berusia 5 sampai dengan 6 tahun untuk kelompok B.


Persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 (satu) pada SD/MI:
telah berusia 7 (tujuh) tahun sampai dengan 12 (dua belas) tahun wajib diterima;
paling rendah berusia 6 (enam) tahun; dan
yang berusia kurang dari 6 (enam) tahun, dapat dipertimbangkan atas rekomendasi tertulis dari psikolog professional.


Persyaratan calon peserta didik baru kelas 1 (satu) pada SDLB yaitu anak yang berusia paling rendah 6 (enam) tahun.


Penerimaan
Seleksi calon peserta didik baru kelas 1 (satu) SD/MI/SDLB dilakukan berdasarkan usia dan kriteria lain yang ditentukan oleh sekolah/madrasah dengan pertimbangan komite sekolah/madrasah.


Seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berupa seleksi akademis serta tidak dipersyaratkan telah mengikuti TK/RA/BA


Dalam upaya peningkatan akses pelayanan pendidikan, jumlah peserta didik baru yang dapat diterima diatur sebagai berikut:

a. jumlah peserta didik pada TK/RA/BA dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 25 (dua puluhlima) orang;

b. jumlah peserta didik pada SD/MI dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 40 (empat puluh) orang;


c. jumlah peserta didik pada SDLB dalam satu rombongan belajar/kelas paling banyak 8 (delapan) orang;